Ketika sebuah Kepercayaan berbicara Lebih keras dari sekedar kata-kata
Ada momen-momen tertentu
dalam perjalanan sebuah sekolah yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan hanya
dengan angka atau laporan. Momen ketika kita berhenti sejenak, menarik napas,
dan merasakan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri
yang sedang bekerja. Bagi saya, 20 Mei 2026 adalah salah satu momen itu.
Pada tanggal tersebut,
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA Muhammadiyah 25 Pamulang resmi kami
tutup. Bukan karena waktu pendaftaran habis. Bukan karena ada perubahan
kebijakan. Tapi karena kuota sudah terpenuhi sebelum tahun ajaran 2026/2027
dimulai.
Syukur Alhamdulillah.
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan keberkahan dan rezeki yang
tidak pernah disangka-sangka. Ini bukan hasil kerja kami semata. Ini adalah
izin-Nya.
Sebagai guru yang setiap
harinya berkutat dengan kegiatan pembelajaran di SMA Muhammadiyah 25, saya tahu
persis betapa panjang dan berliku jalan yang telah dilalui. Setiap capaian yang
ada hari ini adalah akumulasi dari pilihan-pilihan kecil yang dibuat oleh
banyak orang, para guru yang hadir lebih awal untuk mempersiapkan pelajaran,
para staf yang melayani orang tua dengan hangat, para murid yang bertumbuh dan
membawa nama sekolah ini dengan bangga ke tengah masyarakat. Kepercayaan yang
diberikan orang tua kepada kami hari ini bukan turun dari langit begitu saja.
Ia dirajut, satu benang satu benang, dari pengalaman nyata yang dirasakan
anak-anak mereka di dalam kelas.
Evaluasi pembelajaran
tahun ini mengungkap beberapa hal yang tidak boleh kita abaikan. Masih ada
ruang kelas di mana pendekatan mengajar belum sepenuhnya merespons keberagaman
cara belajar murid. Ada murid yang visual, ada yang lebih mudah memahami sesuatu
melalui diskusi, ada yang butuh waktu lebih untuk menyerap materi. Tidak
semuanya terlayani dengan baik. Di sisi pelayanan, kami juga menemukan bahwa
umpan balik dari guru kepada murid kadang masih berhenti di nilai angka tanpa
narasi yang cukup untuk membantu murid mengerti ke mana harus melangkah
selanjutnya. Ini yang ingin kami benahi.
Untuk tahun ajaran yang
akan datang, kami telah merancang beberapa langkah yang lebih konkret. Program
coaching antar guru akan diperkuat, bukan sekadar pelatihan satu arah, tapi
percakapan profesional yang terjadi di antara sesama guru tentang apa yang berhasil
dan apa yang tidak di kelas masing-masing. Sistem asesmen formatif akan kami
tata ulang agar lebih bermakna dan bukan hanya alat ukur, tapi alat bantu
belajar yang bisa digunakan murid untuk memahami perkembangan diri mereka
sendiri.
Pada kesempatan saya
ingin menyinggung satu gagasan yang belakangan ini semakin sering terdengar dan
semakin terasa relevan, yaitu partisipasi semesta. Sekolah yang baik bukan
hanya tanggung jawab kepala sekolah dan guru. Ia adalah tanggung jawab bersama,
ada orang tua, ada komunitas, ada alumni, bahkan murid itu sendiri. Ketika
orang tua aktif berkomunikasi dengan guru soal perkembangan anaknya, itu adalah
partisipasi semesta. Ketika seorang alumni kembali berbagi pengalaman kepada
adik-adik kelasnya, itu adalah partisipasi semesta. Penutupan SPMB yang lebih
awal dari jadwal ini pun, sejatinya, adalah bukti bahwa semesta sedang
berpartisipasi, semesta menunjukan bahwa kepercayaan masyarakat Pamulang dan
sekitarnya sedang bergerak menuju SMA Muhammadiyah 25 bukan karena promosi,
tapi karena satu kata yang disebut dengan keyakinan. Keyakinan itu harus kami
jaga dengan sungguh-sungguh.
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah memiliki tagline yang sederhana tapi sarat makna, pendidikan
bermutu untuk semua. Bukan untuk sebagian, bukan hanya untuk yang sudah pintar
dari rumah, bukan juga untuk yang tidak punya masalah. Tapi untuk semua,
termasuk murid yang berjuang, murid yang datang dari keluarga yang sedang
kesulitan, murid yang mungkin belum menemukan cara terbaik mereka untuk
belajar. Itulah cita-cita yang ingin kami pegang sebagai arah kerja kami ke
depan.
SMA Muhammadiyah 25
Pamulang bukan hanya sekolah yang ingin penuh murid. Kami ingin menjadi sekolah
yang benar-benar hadir untuk setiap murid yang duduk di kursi-kursi itu. Karena
pada akhirnya, keberhasilan kami bukan diukur dari seberapa cepat kuota terpenuhi,
melainkan dari seberapa jauh setiap anak yang pernah belajar di sini tumbuh
menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang taat dan bermanfaat (sebagaimana
Kepala Sekolah kami sering ucapkan) bagi keluarganya, masyarakatnya, dan
agamanya.
Semoga Allah meridai
langkah-langkah kami, menjaga niat kami tetap lurus, dan memudahkan setiap
ikhtiar yang kami lakukan untuk anak-anak yang telah dipercayakan kepada kami.
Aamiin ya Rabbal 'alamin.